Kamis, 20 November 2025

Kuliner Khas Aceh yang Patut Dicoba

 

 Selamat Datang di Dunia Makanan Penuh Rempah!

Pernahkah kamu merasakan sensasi rasa yang begitu kuat, pedas nendang, dan gurih menggoda dalam satu suapan? Sensasi yang mampu membangkitkan kenangan, menghangatkan jiwa, dan membuatmu ingin kembali lagi dan lagi? Bersiaplah, karena kuliner Aceh akan membawamu ke sana!

Aceh, provinsi di ujung barat Indonesia, bukan cuma punya keindahan alam yang memukau, dari pantai yang memesona hingga pegunungan yang menantang, tapi juga menyimpan harta karun kuliner yang kaya rempah dan cerita. Lupakan diet sejenak, mari kita selami kedalaman rasa yang tersembunyi di balik setiap hidangan. Bersiaplah untuk sebuah petualangan rasa yang tak terlupakan!

Jejak Sejarah di Lidah Kita: Dari Jalur Rempah hingga Filosofi Makanan

Kenapa, oh kenapa, masakan Aceh begitu "nendang"? Seolah ada ledakan kecil di lidah setiap kali kita mencicipinya. Ternyata, jawabannya terletak pada posisi strategis Aceh sebagai pusat perdagangan rempah sejak berabad-abad lalu. Bayangkan, pedagang dari Timur Tengah, India, Tiongkok, bahkan Eropa, semuanya mampir di pelabuhan Aceh yang ramai, membawa serta bahan-bahan dan teknik memasak dari negeri masing-masing, dan tanpa sadar meninggalkan jejak rasa yang abadi!

Pengaruh India dan Arab terlihat jelas dari penggunaan aneka rempah yang melimpah seperti jintan, ketumbar, kapulaga, cengkeh, dan teknik memasak kari yang kaya dan kompleks. Mi? Mungkin ini adalah warisan dari para pedagang Tiongkok yang singgah. Penggunaan daging sapi dan kambing dalam hidangan-hidangan berat? Ini bisa jadi sentuhan dari para pedagang Arab yang membawa serta budaya kuliner mereka. Sungguh sebuah perpaduan yang harmonis dan menghasilkan cita rasa yang unik.

Namun, kuliner Aceh lebih dari sekadar pengisi perut. Tahukah kamu, di balik setiap hidangan, ada filosofi mendalam yang tertanam? Mie Aceh, misalnya, sering disajikan dalam acara-acara kumpul keluarga atau pertemuan penting, melambangkan silaturahmi dan kebersamaan. Kuah Pliek U, dengan berbagai macam sayuran yang dimasak bersama, adalah simbol kebersamaan dan gotong royong. Bahkan, makanan tahan lama seperti Sie Reuboh dulunya menjadi "bekal perang" para pejuang Aceh dalam melawan penjajah, menggambarkan ketahanan dan semangat pantang menyerah. Kuliner Aceh bukan hanya sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang hidup dan terus berkembang!

Bintang Lapangan Kuliner Aceh: Hidangan Wajib Coba

Ciri khas utama kuliner Aceh terletak pada penggunaan rempah-rempah yang berani, menciptakan rasa pedas, gurih, dan aroma yang begitu menggoda. Sentuhan asam segar dari belimbing wuluh (asam sunti) atau pliek u (sisa perasan kelapa fermentasi) sering kali menjadi pembeda yang membuat hidangan Aceh begitu istimewa. Dijamin bikin ketagihan dan ingin terus menambah!

Mari kita intip para "juara rasa" yang wajib kamu coba:

  • Mie Aceh: Si ikon pedas gurih yang mendunia! Mi kuning tebal yang kenyal berpadu dengan kuah kari kental yang kaya rempah. Kamu bisa memilih isiannya: daging sapi, kambing, atau seafood. Mau digoreng, ditumis, atau berkuah? Semua juara dan punya penggemar setia!
  • Ayam Tangkap: Ayam goreng renyah yang "ditangkap" bersama daun kari dan pandan goreng. Daun-daun aromatik ini memberikan aroma yang begitu wangi dan rasa yang unik, membuat setiap gigitan terasa begitu istimewa dan bikin nagih!
  • Kuah Pliek U: Sayuran segar yang dimasak dalam kuah santan kental dengan aroma khas pliek u yang fermentasi. Setiap suapan adalah perpaduan rasa pahit, asam, manis, dan gurih yang kompleks. Ini adalah kebersamaan dalam mangkuk, hidangan yang selalu hadir dalam acara-acara penting di Aceh.
  • Sie Reuboh: Daging sapi rebus asam pedas yang legendaris, diawetkan dengan rempah-rempah dan asam sunti. Dulu, hidangan ini menjadi bekal perjalanan jauh karena bisa awet berbulan-bulan. Sekarang, Sie Reuboh tetap menjadi hidangan istimewa yang menggambarkan kearifan lokal Aceh.
  • Sate Matang: Bukan sate biasa! Sate ini terbuat dari daging sapi yang direndam dalam bumbu rempah yang kuat, kemudian dibakar hingga matang. Disajikan dengan kuah kental yang unik dan kaya rempah, Sate Matang memberikan pengalaman rasa yang tak terlupakan.
  • Nasi Gurih: Mirip nasi uduk, tapi dengan bumbu rempah khas Aceh yang lebih kompleks. Nasi Gurih biasanya disajikan dengan lauk pauk seperti ayam goreng, telur dadar, dan sambal. Cocok buat sarapan atau makan siang yang mengenyangkan!
  • Dan masih banyak lagi yang menggoda: Kuah Masam Keu-Neung dengan rasa asam pedas yang menyegarkan, Roti Canai yang lembut dan gurih, Eungkot Paya yang terbuat dari ikan air tawar dengan bumbu khas Aceh... daftarnya panjang dan setiap hidangan punya cerita sendiri!

Aceh di Peta Kuliner Dunia: Opini dan Popularitas Terkini

Kuliner Aceh sedang naik daun! Restoran Aceh menjamur di kota-kota besar di Indonesia, bahkan mulai merambah pasar internasional. Review positif bertebaran di mana-mana, dari blog kuliner hingga media sosial. Orang-orang semakin jatuh cinta pada rasanya yang otentik, kaya rempah, dan unik.

Media sosial menjadi panggung baru bagi kuliner Aceh. Generasi muda Aceh aktif mempromosikan Mie Aceh, Ayam Tangkap, dan Kuah Pliek U di platform seperti TikTok dan Instagram. Mereka membuat konten-konten kreatif yang menarik perhatian dan memperkenalkan kuliner Aceh kepada khalayak yang lebih luas. Kuliner Aceh semakin viral dan dikenal luas, menjadi tren yang diikuti oleh banyak orang!

Jangan lupakan Kopi Gayo! Aceh dijuluki "Kota 1000 Kedai Kopi" bukan tanpa alasan. Budaya ngopi di Aceh bukan hanya sekadar menikmati rasa kopi yang nikmat, tapi juga menjadi ruang diskusi, berbagi cerita, dan mempererat keakraban. Kopi Gayo telah mendunia dan menjadi salah satu kopi terbaik di dunia, mengharumkan nama Aceh di kancah internasional.

Sensasi yang Menghantui: Kontroversi (Ganja?) dalam Masakan Aceh

Ada satu kontroversi yang sering muncul ketika membahas kuliner Aceh: apakah masakan Aceh menggunakan ganja? Mitos ini telah lama melekat dan sering kali membuat orang penasaran. Dulu sekali, biji ganja memang pernah digunakan oleh sebagian masyarakat Aceh untuk mengempukkan daging, namun itu adalah cerita lama yang sudah tidak relevan lagi.

Hari ini, penggunaan ganja dalam masakan Aceh sangat dilarang dan tidak ada. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh bahkan gencar melakukan uji makanan untuk memastikan tidak ada kandungan ganja dalam masakan Aceh dan menghapus stigma negatif ini.

Budayawan Aceh pun mengimbau agar kelezatan masakan Aceh tidak dikaitkan dengan ganja. Rasanya yang kuat dan unik itu murni berasal dari kekayaan rempah-rempah yang digunakan, bukan dari bahan-bahan ilegal. Jangan salah kaprah dan mari kita hargai warisan kuliner Aceh yang autentik!

Menuju Masa Depan: Inovasi, Konservasi, dan Wisata Kuliner Halal

Kuliner Aceh terus berinovasi untuk menjawab tantangan zaman. Ada kue bhoi mini yang dibuat bebas gluten untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang memiliki alergi atau intoleransi gluten. Ada pula fusi rasa lokal-internasional yang menciptakan hidangan-hidangan baru yang menarik dan menggugah selera. Bahkan, sekarang sudah ada bumbu instan Mie Aceh yang memungkinkan siapa saja untuk menikmati hidangan ini di mana saja dan kapan saja!

Aceh memiliki kearifan lokal dalam mengawetkan makanan secara alami. Dari asam sunti yang digunakan untuk mengawetkan ikan dan daging, hingga keumamah (ikan kayu) yang diawetkan dengan cara diasap dan dikeringkan. Sie Reuboh, dengan bumbu rempahnya yang kaya, juga dapat bertahan lama tanpa bahan pengawet. Kini, teknologi pengawetan modern juga mulai diterapkan untuk produk-produk kuliner Aceh, menjaga kualitas dan memperpanjang umur simpan produk.

Aceh aktif mempromosikan pariwisata halal. Pengembangan desa wisata kuliner yang berfokus pada penggunaan bahan-bahan lokal (farm-to-table) menjadi salah satu prioritas. Komersialisasi hidangan seremonial juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman kuliner yang autentik. Aceh siap menyambut wisatawan dari seluruh dunia untuk menikmati kelezatan kuliner halal yang tak terlupakan!

Ayo Cicipi Petualangan Rasa Aceh!

Dari sejarah yang kaya, rasa yang berani, hingga inovasi yang terus berkembang, kuliner Aceh adalah sebuah pengalaman yang tak boleh dilewatkan. Setiap hidangan adalah cerita, setiap rasa adalah petualangan. Kuliner Aceh adalah warisan yang harus dilestarikan dan dinikmati oleh semua orang.

Jadi, kapan kamu akan memulai petualangan rasa di tanah Serambi Mekkah ini? Bersiaplah untuk dimanjakan oleh cita rasa yang tak terlupakan, aroma yang menggoda, dan keramahan masyarakat Aceh yang hangat. Selamat menikmati kelezatan kuliner Aceh!

Senin, 02 Juni 2025

Tensi Darahku 170

Tensi Darahku 170

Pagi itu aku merasa pusing. Bukan pusing biasa yang bisa kutangani dengan tidur sebentar atau minum teh hangat. Ada sesuatu yang lain. Pusing itu menyeret rasa kebas di sisi kanan tubuhku—dari kepala, telinga, lengan, hingga kaki. Rasanya seperti ada sesuatu yang tak sinkron dalam tubuh ini, seolah setengahnya sedang memudar. Setelah absen pukul 8.30, aku memutuskan untuk langsung ke UGD.

Tensi darahku 170. Para perawat dan dokter langsung sigap. Mataku menangkap sorot khawatir dari mereka, dan itu memperburuk ketakutanku sendiri. Amlodipin segera diberikan, lalu infus untuk obat neuro. Aku menghabiskan setengah hari di rumah sakit. Dari jam 9 pagi sampai 3 sore, tubuhku seperti medan perang yang tak kasat mata. Diam, tapi ribut di dalam.

Tapi sesungguhnya, lebih ribut lagi isi kepalaku. Aku tahu tekanan darah tinggi bukan hanya soal pusing. Ia seperti bom waktu—bisa meledak dalam bentuk stroke, atau menggerogoti ginjal secara perlahan. Dan aku tahu seperti apa rasanya kehilangan karena ginjal. Dalam keluargaku, dua orang meninggal muda karena gagal ginjal. Mereka menghabiskan tahun-tahun terakhir hidup mereka dengan jadwal cuci darah. Aku melihat sendiri bagaimana tubuh mereka melemah, bagaimana semangat mereka perlahan terkikis, dan itu menakutkan.

Aku tidak ingin menyusul mereka. Aku ingin hidup lebih lama untuk orang-orang yang kucintai. Tapi ketakutan ini nyata. Maka, aku harus belajar lebih mendengarkan tubuhku. Tidak boleh lagi menunda. Tidak boleh lagi menyepelekan. Ini bukan sekadar hari di rumah sakit. Ini peringatan. Alarm. Titik balik.

Semoga aku diberi kekuatan untuk berubah. Bukan hanya agar sembuh, tapi agar hidup ini bisa lebih berarti, lebih disyukuri, dan lebih sehat—secara lahir dan batin. []

Minggu, 01 Juni 2025

Merindukan Cubitan Mak


 

Bagi kebanyakan anak, masa kecil itu isinya hanya bermain. Tapi tidak bagi kami. “Kami” yang kumaksudkan di sini adalah aku dan saudari kembarku. Namaku Siti Hajar, sementara kakakku bernama Siti Sarah. Seperti dalam kisahnya, Siti Hajar dan Siti Sarah adalah istri-istri Nabi Ibrahim. Nama kami memang mengandung cerita, dan hidup kami pun seolah ingin bercerita juga.

Sejak kecil, kami hampir selalu bersama. Main berdua, mencuci baju berdua, bahkan kadang ke sawah pun berdua. Tak perlu dicari—di mana ada si kakak, di situ pasti ada si adik. Kami adalah dua dalam satu langkah.

Anak-anak lain mungkin bebas bermain tanpa dipanggil. Tapi tidak dengan kami. Hampir setiap kali asyik bermain, terdengar suara Mak memanggil dari kejauhan,
Adek, Kakak… woe, siat jaga adek!

Teriakan itu akrab, nyaring, dan tak bisa diabaikan. Bagaimana bisa, kami yang masih kecil, sudah punya adik empat orang yang lebih kecil-kecil lagi. Kebayang, kan? Lagi asik main, lalu diganggu karena harus pulang dan membantu.

Kami pulang. Dengan berat hati, tapi selalu bersama.

Waktu bermain kami memang tidak banyak. Bukan karena kami tak ingin, tapi karena Mak kami terlalu sibuk. Rasanya aku hampir tak pernah melihat beliau duduk santai, apalagi tidur-tiduran. Mana sempat? Beliau mengurus delapan anak, menyiapkan makanan, memandikan anak-anak dan bayi, membantu anak sekolah, dan mengingatkan yang remaja tentang etika. Beliau adalah Ibu yang seluruh waktunya habis untuk anak-anaknya.

Aku teringat suatu hari—sebuah sore yang membekas sampai hari ini.
Waktu itu Mak baru pulang dari sawah. Seperti biasa, sebelum masuk rumah, beliau sudah mengingatkan kami, “Jangan lupa angkat jemuran, hujan kayaknya mau turun.”
Kami mengangguk, lalu kembali larut dalam dunia bermain.

Namun ternyata langit tidak menunggu. Hujan benar-benar turun, deras dan tiba-tiba. Jemuran kami—pakaian yang dicuci sejak pagi—semuanya basah kuyup. Dan sialnya, di rumah sedang ada bayi yang butuh pakaian dan selimut kering.

Kami ketahuan lupa. Dan seperti yang bisa ditebak, kami kena hukuman.

Hukuman itu bukan sekadar omelan atau wajah cemberut. Kami dicubit. Di pangkal paha. Cubitan Mak bukan cubitan biasa. Bekasnya baru hilang dua tahun kemudian. Dua tahun. Rasanya nyaris abadi.

Mak kami memang keras. Kami semua tahu itu. Tapi entah kenapa, aku merasa akulah yang paling merasakannya. Mungkin karena aku lebih sensitif, atau mungkin karena aku memang lebih sering ceroboh. Dulu aku pikir semua ibu di dunia ini seperti itu—keras, galak, bahkan tak segan menyakiti.

Tapi setelah aku dewasa, aku tahu itu tidak benar. Sekeras apapun keadaan, menyakiti anak bukanlah hal yang patut. Aku tahu sekarang, itu tidak dibenarkan. Tapi aku juga tidak menyalahkan Mak.

Aneh ya… Kini aku justru merasa beruntung. Mungkin kalau tidak dididik dengan keras, aku tidak akan menjadi seperti sekarang—kuat, tahan banting, tahu bahwa hidup itu tidak pernah benar-benar mudah, tapi juga tidak harus selalu menyakitkan. Kini Mak sudah tiada. Betapa aku merindukannya. Doaku semoga Allah pertemukan lagi di surga nanti. []

Cerita Tentang Utang :)

Cerita Tentang Utang :)

1. Apa yang sebenarnya membuatku sedih? Bukan jumlah uangnya. Tapi rasanya seperti tidak dihargai. Ketika aku sudah menekan kebutuhanku demi membantu, dan dia menganggap itu hal kecil, aku merasa invisible. Aku hadir saat dia butuh, tapi dia abai ketika aku butuh kepastian.

2. Apa yang aku harapkan darinya, dan apa yang tak pernah ia berikan? Aku berharap ada tanggung jawab, kesadaran, atau setidaknya permintaan maaf yang jujur. Tapi selalu yang datang hanya alasan. Lama-lama aku ragu: dia temanku atau hanya melihatku sebagai ‘jalan keluar instan’?

3. Apa yang sebenarnya ingin aku katakan padanya, tapi belum pernah benar-benar aku sampaikan? “Mungkin kamu merasa aku selalu bisa paham kamu, tapi aku juga manusia. Aku juga butuh dipahami. Setiap kali kamu tidak menepati janji, rasanya kamu sedang menarik kembali kepercayaanku, sedikit demi sedikit.”

4. Kenapa aku terus jatuh di lubang yang sama? Karena aku punya hati. Dan karena aku ingin percaya bahwa orang bisa berubah. Tapi kini aku sadar: memaafkan bukan berarti membiarkan diriku terus dilukai. Aku boleh berhenti, bahkan jika itu membuatku merasa bersalah sebentar. Menolak pun adalah bentuk cinta pada diriku sendiri.

5. Apa yang bisa kulakukan sekarang untuk merawat batas sehat dalam diriku?

  • Mulai berani berkata, “Maaf, aku belum bisa bantu.”
  • Menulis setiap kali aku goyah, agar tetap terhubung dengan suara hatiku.
  • Belajar bahwa menjaga jarak bukan berarti berhenti peduli. Tapi itu bentuk perlindungan atas ruang batin yang terlalu sering diabaikan.

Jika suatu saat tulisan ini sampai di kamu, maafkan aku sampai nulis di coretan ini. Di sini memang tempat aku menulis diary, tempat aku curhat. Postingan di blog ini jarang ada yang berkunjung.

Aku ingin kamu tahu bahwa, “Kebaikanku bukan untuk dimanfaatkan. Aku belajar dari luka ini. Dan sekarang, aku memilih untuk tidak jatuh ke lubang yang sama—bukan karena aku berhenti peduli, tapi karena aku mulai mencintai diriku sendiri.”[]

Pesawat yang Tak Mau Terbang Tanpa Pak Harish


Ada banyak kisah yang menginspirasi dalam hidup. Tapi yang satu ini terasa begitu dekat dengan langit, seperti ada tangan Tuhan yang langsung turun tangan menjawab doa seorang hamba yang bersungguh-sungguh. Namanya Pak Harish, seorang jamaah haji asal India. Ia telah menanti bertahun-tahun untuk menunaikan rukun Islam kelima. Tapi ujian datang justru di saat terakhir—visa dan surat terbangnya bermasalah. Rombongannya telah dipanggil naik ke pesawat, tapi dia tertinggal. Entah karena prosedur atau kelalaian teknis, ia tidak ikut terbang bersama rombongan.

Namun Pak Harish tidak pulang. Ia tetap duduk di bandara. Menanti. Berdoa. Meyakini bahwa hatinya yang ingin ke Tanah Suci tak mungkin ditinggalkan begitu saja oleh Allah. Hatinya teguh: “Aku harus ke Saudi, aku yakin akan berangkat.”

Di langit, pesawat yang ditumpangi rombongan Pak Harish mengalami gangguan. Pilot memutuskan untuk kembali ke bandara. Mekanik pun memeriksa armada. Tidak ada masalah. Mesin baik-baik saja. Mereka coba lagi. Tapi pesawat kembali gagal menembus langit. Pilot merasakan ada yang “salah”, meskipun alat tidak menunjukkannya.

Lalu muncullah suara dari pilot, “Jemput Pak Harish tadi.” Ya, pilot tahu dan mengingat bahwa ada satu nama yang tertinggal. Dan anehnya, pesawat seperti tidak diizinkan terbang sebelum satu nama itu ikut serta.

Dan benar saja, setelah Pak Harish dibawa kembali ke dalam pesawat, tak ada lagi gangguan. Mesin berjalan sempurna. Pesawat terbang mulus menuju Tanah Suci.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Itulah kuasa Allah. Doa yang tulus, keinginan yang jujur, dan niat ibadah yang murni bisa menggetarkan langit. Bahkan sebuah pesawat tak bisa terbang sebelum membawa hamba yang dikehendaki-Nya. Bukan karena kekuatan logika, tapi karena cinta Allah pada hamba-Nya yang yakin dan berserah.

Kadang kita lupa, bahwa dalam dunia yang begitu sibuk dan teknologis ini, Tuhan tetap bekerja dalam diam. Mengatur ulang langit dan bumi hanya demi satu jiwa yang percaya. Dan kisah ini jadi saksi: tak ada yang mustahil bagi Allah, bila seorang hamba bersungguh-sungguh dalam doa. []

 

Malam Mie Instan dan Kerupuk Jengek

Entah kenapa, tanggal 30 atau tanggal 31 itu terasa berat. Mungkin karena akhir bulan, mungkin juga karena rasa lelah yang menumpuk diam-diam. Malam itu kami hanya punya mie instan untuk dimakan bertiga. Aku, Dara, dan Bg Budy duduk di meja makan menjelang Magrib, menyeruput kuah hangat yang entah kenapa terasa lebih berarti daripada biasanya. Dara, seperti biasa, tetap merasa lapar meski baru makan lima belas menit sebelumnya. Aku hanya tersenyum—dia memang begitu, nafsu makannya kadang bikin geleng-geleng kepala, tapi juga menghibur.

Setelah salat Isya, kami bertanya-tanya, bagaimana caranya agar Dara bisa tetap jajan. Ternyata, di balik kesenyapannya, Bg Budy masih menyimpan uang lima ribu rupiah. Kami pun melangkah ke warung Bang Win dengan niat jajan 15 ribu—dengan strategi: bayar lima ribu dulu, sisanya utang. Hahaha, sederhana tapi strategis.

Ternyata, dengan lima belas ribu saja kami sudah dapat banyak: roti Unibis Bon-Bon, peyek kacang tiga biji, dan lima buah kue kipang. Kami sudah keluar dari warung dan merasa cukup senang, sampai mata kami menangkap kantong kerupuk jengek ukuran besar, harganya lima ribu. Nafsu pun kembali menyeruak. Jadilah utang kami naik jadi 15 ribu, total belanjaan jadi 20 ribu. Masyaallah... dan itu benar-benar banyak.

Yang lebih mengejutkan: biasanya kami bisa duduk nongkrong di warung sehari dua kali, dan sekali duduk bisa habis 60–70 ribu. Malam itu kami belajar, ternyata dengan uang yang jauh lebih kecil, kami tetap bisa tertawa, tetap kenyang, dan tetap merasa cukup.

Kadang memang begitu: saat kekurangan, barulah kesadaran itu tumbuh. Betapa banyak rupiah yang hilang tanpa makna saat dompet masih penuh. Tapi malam itu, dengan mie instan, jajan utang, dan kerupuk jengek, kami belajar menghargai. Belajar bersyukur. Dan belajar bahwa kebersamaan, rasa syukur, dan kesederhanaan ternyata jauh lebih mengenyangkan daripada yang kami kira.

Alhamdulillah besoknya, kami payday. Saat kembali ke warung Bg Win kami untuk belanja harian kebutuhan dapur, beras, minyak goreng, telur, tomat dan percabaian, kami langsung bayar utang semalamnya. Nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan, Hajar ….

Hei… apa kamu pernah mengalami saat krisis seperti yang aku rasakan? []

Tentang Penulis

 

Selamat datang di Haba-Siti Hajar, ruang kecil yang aku isi dengan kisah, tanya, tangis, dan tawa—semua yang tak selalu sempat terucap, tapi ingin tetap abadi dalam kata. Ini adalah diari pribadiku. Sangat pribadi. Mungkin beberapa tulisannya akan terasa ganjil, janggal, bahkan memalukan. Tapi biarlah. Karena begitulah hidup, kan? Tak selalu rapi, tapi selalu nyata.

Aku Siti Hajar, manusia biasa, sama seperti kamu. Aku menulis bukan karena tahu segalanya, tapi karena aku sedang belajar memahami. Semoga dari apa yang kutulis, ada hikmah yang bisa kau bawa pulang. Atau paling tidak, kau merasa tak sendirian dalam dunia yang kadang terasa sepi ini.

Kuliner Khas Aceh yang Patut Dicoba

    Selamat Datang di Dunia Makanan Penuh Rempah! Pernahkah kamu merasakan sensasi rasa yang begitu kuat, pedas nendang, dan gurih menggod...