Tradisi Meugang: Cara Orang Aceh Menyambut Ramadhan



Di Aceh, Ramadhan tidak pernah datang tanpa tanda. Ia selalu disambut dengan riuh yang khas, dengan aroma daging yang mengepul dari dapur-dapur rumah, dengan wajah-wajah yang berseri karena sebuah tradisi yang sudah hidup turun-temurun-Meugang.

Meugang adalah hari ketika orang Aceh memasak dan menyantap daging bersama keluarga sebelum memasuki bulan puasa. Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar makan besar. Ini adalah penanda bahwa Ramadhan benar-benar di ambang pintu. Dulu, ketika daging bukan makanan yang mudah hadir setiap hari, momen ini terasa lebih istimewa. Maka tak heran jika dalam setahun ada tiga waktu yang terasa hampir “wajib” untuk menikmati daging: menjelang Ramadhan, sehari sebelum Idul Fitri, dan saat Hari Raya Qurban.

Jauh-jauh hari, orang-orang sudah menyiapkan tabungan khusus untuk meugang. Pasar menjadi lebih hidup dari biasanya. Penjual daging memenuhi lapak-lapak, bahkan muncul pasar dadakan yang hanya ada saat meugang tiba. Daging sapi dan kerbau menjadi yang paling dicari. Namun jika tak tersedia, ayam atau bebek pun tetap menjadi pilihan. Intinya bukan pada jenis dagingnya, tetapi pada kebersamaan yang terbangun di meja makan.

Menjelang siang, hampir di setiap rumah di Aceh, hidangan sudah tersaji. Kuah beulangong, rendang, atau masakan daging sederhana yang dimasak dengan penuh cinta. Anak-anak menunggu dengan tak sabar, orang tua tersenyum menyaksikan meja makan yang penuh. Makan besar itu seperti penguat ikatan—sebelum esoknya kita belajar menahan lapar bersama.

Jika direnungkan, mungkin tradisi ini bukan hanya soal budaya, tetapi juga soal kebijaksanaan. Bisa jadi, orang-orang dulu memahami bahwa menjelang ibadah panjang seperti puasa, tubuh perlu dipersiapkan. Asupan protein hewani menjadi pelengkap gizi yang penting, memberi tenaga dan daya tahan. Tanpa istilah medis atau teori nutrisi yang rumit, mereka sudah mempraktikkan keseimbangan itu dalam bentuk tradisi. Betapa orang-orang terdahulu telah memperhatikan kebutuhan tubuh sekaligus kebutuhan batin dalam satu momentum yang sama.

Meugang bukan hanya soal konsumsi. Ia adalah simbol syukur dan simbol berbagi. Banyak keluarga yang membagikan sebagian dagingnya kepada tetangga atau kerabat yang membutuhkan. Dalam riuh pasar dan asap dapur, ada nilai sosial yang tumbuh: bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang memastikan orang lain juga merasakan kebahagiaan.

Mungkin hari ini daging bukan lagi sesuatu yang langka. Namun tradisi itu tetap hidup. Karena yang dirindukan bukan sekadar rasanya, melainkan suasananya. Suasana ketika Ramadhan disambut dengan gembira, dengan perut yang siap berpuasa dan hati yang lebih siap untuk menahan diri.[]

Komentar

Postingan Populer