Refleksi 60 Hari Menjadi Kasubbag
Sudah 60 hari saya menjalani peran sebagai Kasubbagian Pembelajaran dan Akademik.
Enam puluh hari ternyata cukup untuk membuat saya belajar banyak hal. Bukan hanya tentang pekerjaan, administrasi, surat-menyurat, target, atau bagaimana mengatur tim. Lebih dari itu, saya belajar tentang diri sendiri.
Tentang bagaimana saya menghadapi masalah.
Tentang bagaimana saya mengambil keputusan.
Dan yang paling penting, tentang bagaimana saya belajar menjadi seorang pemimpin.
Di awal menjalani amanah ini, ada banyak hal yang saya pikir akan menjadi masalah besar.
Saya memikirkannya berulang-ulang. Saya mencoba membayangkan kemungkinan terburuk. Saya memikirkan apa yang akan terjadi kalau sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
Ternyata setelah dijalani, banyak hal yang saya takutkan tidak pernah menjadi masalah.
Saya kemudian tertawa sendiri.
Ternyata selama ini saya bukan sedang menghadapi masalah. Saya sedang menghadapi pikiran saya sendiri.
Dari sini saya belajar satu hal sederhana.
Jangan terlalu cepat menganggap sesuatu sebagai masalah sebelum benar-benar menjadi masalah.
Kadang kita sudah lelah lebih dulu hanya karena memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
Overthinking itu melelahkan.
Dan selama 60 hari ini saya belajar untuk lebih santai.
Bukan berarti mengabaikan masalah. Bukan pula berarti tidak berhati-hati. Tetapi belajar membedakan mana yang memang harus segera diselesaikan dan mana yang cukup disimpan dulu dalam kepala sambil menunggu waktunya.
Karena ternyata masalah sebesar apa pun tetap akan memiliki jalan keluar.
Tidak semuanya harus diselesaikan hari ini.
Tidak semuanya harus saya pikirkan sampai larut malam.
Dan tidak semua hal harus saya tanggung sendirian.
Hal lain yang saya pelajari adalah tentang bertanya.
Awalnya mungkin ada sedikit rasa sungkan. Saya adalah pimpinan baru. Saya merasa seharusnya saya tahu banyak hal. Ada perasaan bahwa seorang pemimpin harus terlihat mampu.
Tapi kemudian saya sadar.
Saya memang baru.
Sementara orang-orang di dalam tim sudah lebih lama berada di posisi mereka. Mereka lebih mengenal pekerjaan sehari-hari. Mereka mengetahui alur yang mungkin belum saya pahami. Mereka memiliki pengalaman yang tidak bisa saya dapatkan hanya dalam beberapa minggu.
Jadi, mengapa harus malu bertanya?
Mengapa harus berpura-pura tahu?
Saya justru belajar bahwa bertanya kepada tim bukan tanda bahwa kita lemah sebagai pemimpin.
Sebaliknya, itu adalah bentuk penghargaan terhadap pengalaman mereka.
Saya mulai belajar mengatakan, “Bagaimana biasanya ini dilakukan?”
Atau, “Menurut teman-teman, cara yang paling tepat bagaimana?”
Dan ternyata mereka dengan senang hati membantu.
Di situlah saya memahami bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus menjadi orang yang paling tahu.
Menjadi pemimpin adalah tentang tahu kapan harus memimpin, kapan harus mendengar, dan kapan harus meminta bantuan.
Saya juga belajar untuk lebih terbuka kepada atasan.
Kalau ada masalah, sampaikan.
Kalau ada sesuatu yang membuat kita ragu, ceritakan.
Kalau ada persoalan yang menurut kita penting, jangan disimpan sendiri.
Saya belajar bahwa atasan bukan hanya tempat meminta persetujuan. Atasan juga bagian dari tempat kita berbagi beban dalam pekerjaan.
Ada rasa lega ketika sebuah persoalan sudah kita sampaikan.
Setidaknya kita tidak merasa sedang menanggung semuanya sendirian.
Dan ada satu hal yang juga saya sadari.
Ketika kita sudah menyampaikan persoalan kepada atasan, ada jejak komunikasi bahwa masalah tersebut memang pernah kita laporkan dan koordinasikan. Ini penting, terutama dalam pekerjaan yang memiliki tanggung jawab administratif.
Bukan untuk mencari aman dengan melemparkan tanggung jawab.
Tetapi karena pekerjaan memang seharusnya dijalankan melalui koordinasi.
Seorang pemimpin tidak harus menyimpan semua persoalan di kepalanya sendiri.
Ada tim.
Ada atasan.
Ada orang-orang yang bisa diajak berdiskusi.
Dan ada prosedur yang harus kita ikuti.
Enam puluh hari ini juga membuat saya belajar bahwa jabatan baru tidak harus langsung membuat kita sempurna.
Kita boleh belajar sambil berjalan.
Boleh bertanya.
Boleh tidak tahu.
Boleh meminta bantuan.
Boleh mengatakan, “Saya perlu waktu untuk mempelajarinya.”
Yang penting adalah kita mau belajar dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita kerjakan.
Mungkin dulu saya terlalu banyak berpikir tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik.
Sekarang saya mulai berpikir lebih sederhana.
Kerjakan yang ada di depan mata.
Selesaikan yang memang harus diselesaikan.
Komunikasikan apa yang perlu dikomunikasikan.
Dengarkan tim.
Terbuka kepada atasan.
Dan jangan terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Karena ternyata banyak ketakutan kita hanya tinggal di kepala.
Dan setelah 60 hari ini, saya ingin belajar menjadi pemimpin yang lebih tenang.
Tidak terburu-buru.
Tidak mudah panik.
Tidak merasa harus tahu semuanya.
Tidak merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian.
Saya ingin menikmati proses belajar ini.
Sebab mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar dari 60 hari pertama saya:
Menjadi pemimpin bukan tentang terlihat paling kuat.
Kadang justru tentang berani mengatakan, “Saya belum tahu.”
Berani bertanya.
Berani meminta bantuan.
Berani menyampaikan masalah.
Dan yang tidak kalah penting, berani percaya bahwa setiap masalah akan menemukan jalan keluarnya.
Jadi, kalau hari ini ada sesuatu yang terasa berat, saya ingin mengingatkan diri sendiri:
Tenang.
Kerjakan satu per satu.
Jangan terlalu dalam memikirkannya.
Kalau memang menjadi masalah, nanti kita cari solusinya.
Kalau belum menjadi masalah, ya sudah.
So, santai saja.
Bukankah kita juga sedang belajar?



Komentar
Posting Komentar